Sunday, May 27, 2007

aline in action

aline with oversized t shirt

"mama, are you sure this is the smallest size shirt?"

aline with chocolate all over her mouth

"choooocoolaaatoooo....fear the choc monster!"

Friday, May 11, 2007

FPI versus buruh di yogya

FPI clash dengan massa buruh dalam rangka sweeping anggota partai so called komunis waktu perayaan mayday di yogya (1 mei 2007).

Oalah FPI, apa sih mau kalian? Cari popularitas karena kabar tentang kalian mulai meredup? Jika di masa lalu kalian mengerahkan massa untuk menghancurkan tempat tempat maksiat (yang jauh dari basis kalian di petamburan, sementara komplek pelacuran di sekitar bongkaran kalian diamkan saja), maka kalian sekarang ‘meluangkan waktu’ untuk sweeping anggota partai komunis diantara para buruh yang sedang merayakan hari buruh. Sebegitu lancang kah para buruh itu merayakan hari besar mereka sehingga kalian harus buang waktu mengadakan penghadangan dan sweeping? Sebegitu kotor kah anggota partai komunis sehingga kalian rela ber panas panasan berhadapan dengan massa buruh yang sejenak keluar dari rutinitas mereka melayani para pemilik modal, juragan juragan mereka, hanya untuk membersihkan massa buruh dari anggota partai komunis itu tadi?

Yang tetap menjadi pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku sampai sekarang, wahai anggota dan simpatisan FPI (Front Pembela Islam); dimana kalian waktu kasus kasus korupsi merajalela tapi polisi sebagai law enforcement resmi tidak kuasa mengungkap? Dimana kalian waktu ‘pasukan penegak perda’ satpol PP mengobrak abrik dagangan para bakul kakilima atas nama pembangunan? Dimana kalian waktu tayangan sinetron perusak akidah (yang pastinya penyebarannya lebih hebat daripada majalah playboy) semangkin menjamur di tivi2 lokal? Dimana kalian waktu TKW TKW beragama islam disiksa dan dibunuh di negara islam tempat mereka bekerja? Dimana kalian ketika ustadz abubakar baasyir ditangkap oleh den 88 binaan amerika karena dituduh teroris tanpa bukti?

Terus terang, dulu aku sempat berpikir kalian benar benar front pembela islam, dan juga pembela muslim, termasuk muslim miskin yang hidupnya ter marginalisasi derap laju globalisasi (yah, itu bisa diterjemahkan sebagai, tempat dagang nya digusur untuk dibangun mall milik pemodal superbesar yang mampu menyogok pemerintahan setempat). Sekarang, aku semakin kehilangan hormat pada kalian, kalian tak ubahnya serigala liar kelaparan yang disuruh jaga rumah, sangat fierce dan mematikan untuk segala hal kecuali tugas utama mereka yaitu menjaga rumah.

Para pemimpin FPI, ingatlah, perhitungan dan penilaian Allah itu lebih berat bagi kalian pemimpin daripada bagi kroco kroco yang kalian provokasi dan kalian beri fatwa untuk menghancurkan ini itu, sweeping ini itu. Kalian harus mempertanggung jawabkan itu semua. Kalianlah yang punya otak dalam setiap kegiatan organisasi kalian. Sementara para pengikut hanya sendiko dawuh fatwa kalian, maka perhitungan bagi mereka pun tidak akan seberat perhitungan bagi kalian. Ingatlah itu wahai pemimpin FPI. Kalian akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat, tentang fatwa fatwa kalian, perintah perintah kalian, dan keputusan kalian untuk menggunakan nama islam untuk berhadapan dengan para buruh yang hidupnya sehari hari pun sudah susah…

Jika dulu waktu kalian baru berdiri aku optimis kalian akan menjadi penegak hukum menggantikan tugas law enforcement resmi yang impoten dan menghamba pada amerika, maka sekarang aku sudah sampai titik saturasi waktu melihat kalian benar benar berhadapan dengan para buruh, sewaktu kalian mengacau perayaan hari besar buruh di yogya. Kini aku dengan senang hati akan berdiri di barisan para buruh menghadapi kalian, wahai bar bar…

untuk semua idiot yang berfikir semua ide dapat berakhir di perapian

tak ada dunia yang begitu mudah untuk kalian hitamputihkan

mendukung keagungan layak Heidegger mendukung Nazi

propaganda basi, wahyu surgawi dengan bau tengik terasi

jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap

maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan botol kecap

Yo, FASIS YANG BAIK ADALAH FASIS YANG MATI!

FASIS YANG BAIK ADALAH FASIS YANG MATI!

FASIS YANG BAIK ADALAH FASIS YANG MATI!

tunggu di ujung jalan yang sama saat kalian mengancam kami-homicide : puritan

Tuesday, April 17, 2007

elegi bagi para teroris

Sudah dua tahun telah berlalu sejak Imam Samudera bersama kawan-kawannya meluluh-lantakkan Legian, Bali. Setiap dikembalikan kepada ingatan tersebut, banyak yang marah, tentu saja. Belum kemudian disusul oleh pengeboman hotel Marriot, Jakarta. Setahun sebelum bom meledak di Legian, menara kembar WTC di New York dihantam oleh dua buah pesawat sipil hingga lebur menjadi puing.
Tiga tahun lagi ke belakang, Ted Kaczynski ditangkap dan diajukan ke pengadilan Amerika karena kampanye bomnya, sang Unabomber. Melihat pada Imam Samudera, para insurgen Palestina dalam bom bunuh diri di Israel, dan Kaczynski, ada semacam garis merah dalam
evaluasi kampanye bom yang mereka semua lakukan: kekerasan dengan sebuah keyakinan perlawanan terhadap kekerasan sistem kapitalisme.

Penggunaan kekerasan bukanlah sebuah taktik baru dalam sejarah revolusioner dunia, termasuk pembentukan organisasi-organisasi teroris. Tak mudah memang melawan sistem kapitalisme yang terlalu hebat ini dan tak heran saat seringkali seseorang memilih taktik terorisme sebagai taktik perlawanannya. Dan dengan demikian kita dibawa kepada pertanyaan tentang kekerasan itu sendiri, atau bahkan juga kekerasan insureksioner apabila kita meminjam
istilah dari Kaczynski dalam the Unabomber Manifesto-nya.

Poin yang diambil dalam kekerasan insureksioner adalah pemutusan sejarah kekerasan yang secara virtual jelas mendefinisikan tata masyarakat modern. Ia hadir sebagai sebuah oposisi terhadap kekerasan reaksioner atau juga revolusioner yang memperpanjang daftar pembantaian dalam sejarah manusia. Dalam taraf filosofisnya, kekerasan insureksioner memiliki tujuan tidak lebih sebagai sebuah realisasi dan transendensi sejarah. Kekerasan ini hadir bukan untuk mengagungkan sejarah, melainkan untuk menguburnya. Kekerasan ini adalah sebuah bentuk penolakan dalam bentuknya yang paling murni. Ia adalah seorang budak yang membunuh majikannya dan kemudian membakar seluruh milik sang majikan hingga rata dengan tanah; ia tidak mengganti satu majikan dengan majikan lainnya ataupun juga menjadi majikan baru. Ia menghancurkan sistem dengan totalitasnya, yang memberikan arti lebih pada terminologi majikan, budak, kerja dan kepemilikan.
Kekerasan insureksioner bukanlah juga hal baru dalam sejarah. Ia dapat ditemukan dalam Komune Paris 1871;
sebuah kampanye pemboman fin de siècle dalam teroris-anarkis Perancis, Russia, Spanyol dan Itali; kelompok Los Pistoleros dalam tubuh CNT/FAI Spanyol; para petani Makhnovchina di bawah Nestor Makhno, para pemberontak Kronstadt,Czolgosz, Alexander Berkman, insurgen Hongaria tahun 1956, penghancuran monumen memorial polisi mengenai Haymarket dengan dinamit oleh the Weatherman, Poll Tax Riot tahun 1990 di Inggris, semua menjadi contoh nyata tentang kekerasan insureksioner.
Dalam praksis, ia hadir dalam berbagai bentuknya. Beberapa lebih efektif, beberapa berbasiskan massa, beberapa hanya dilakukan oleh individu, beberapa jauh lebih beresiko daripada yang lain. Setiap bentuk memiliki kelebihan dan kekurangan, dan hanya orang-orang yang tak mau berpikir sajalah yang tidak sadar akan hal tersebut.
Kekerasan yang berbasiskan massa jelas merupakan yang paling efektif dan efisien, beresiko lebih kecil bagi tiap individu, dan tentu saja, menjadi bentuk paling hebat dari kekerasan insureksioner. Individu seorang diri, tentu saja dapat melakukannya apabila tak seorangpun merasa mampu untuk bangkit dan mengambil langkah insureksioner.
Intinya simpel, seseorang harus melakukannya saat diperlukan dan saat ia mampu, baik apabila kekerasan itu dilakukan dalam sebuah grup kecil ataupun dalam aksi massa yang berjumlah 10 ribu orang lebih, ataupun juga hanya oleh lima orang ataupun malah seorang diri.
Lagipula apa yang dapat diharapkan saat mereka yang seharusnya berdiri karena mengerti apa yang terjadi, sama sekali tak mau membuka mulut bahkan untuk mengatakan tidak sekalipun atas kesewenangan yang terjadi dihadapan mereka? Apa yang diharapkan akan terjadi saat mereka yang tahu memilih hanya duduk di belakang meja dan kacamatanya, bersembunyi dalam kenyamanannya dengan dalih bahwa kaum intelektual cukup hanya sekedar menganalisa.
Memang tak mudah untuk mengatakan seseorang adalah teroris ataupun bukan saat label teroris itu sendiri selalu diberikan dengan mudah oleh status quo terhadap siapapun yang berani menentang sistemnya. Dan karena inti masalahnya bukan berhenti disitu, melainkan pada apa-apa yang melatar belakangi aksi kekerasan itu sendiri. Ada sebuah perbedaan besar bagi kita untuk memberikan dukungan kritikal ataupun celaan yang kritikal terhadap aksiaksi
yang depresif tersebut. Selalu tak pernah menjadi efektif saat setiap taktik perlawanan dikorbankan–karena dianggap tidak sempurna–demi sebuah imaji perlawanan yang sempurna. Saat mereka yang mengaku progresif memang tidak seharusnya merengkuh aksi-aksi yang tidak cocok dengan standar taktik dan strategi mereka, tetapi adalah sesuatu yang keterlaluan apabila lantas para progresif tersebut mengutuk mereka yang telah memilih untuk melakukan aksi, karena aksinya tak cocok dengan standar mereka. Mereka yang terlibat dalam kekerasan
insureksioner akan selalu memiliki pemahaman yang terbatas tentang situasi historis. Mereka akan selalu membuat kesalahan. Mereka akan selalu menghadapi tentangan yang besar.


Akhir kata, bukan maksud artikel ini untuk membenarkan tindakan-tindakan teror para teroris tersebut, melainkan untuk menekankan bahwa pertanyaan atas kekerasan seharusnya dialamatkan dengan pengertian penuh tentang apa yang melatar belakanginya. Radikal ataupun konservatif, tak seorangpun dapat melarikan diri dari keterlibatannya dalam kekerasan sosial. Karena melarikan diri dari kenyataan yang melatar belakangi aksi-aksi depresif tersebut jelas berarti bahwa kita menyerah tanpa melakukan sebuah perlawananpun juga.


Dibajak dari jurnal ODISSEY#6 JURNAL KONSPIRASI
KONTRA-KULTURA
SEPTEMBER 2004

Wednesday, February 14, 2007

Antara egoisme spiritual dan kemanusiaan

Bencana dimana mana, seluruh media meliput bencana, berbanding lurus dengan berita berita tentang bencana, timbul juga berita berita tentang korporasi ini mendirikan posko anu di mana, perusahaan itu menyumbang sekian truk bantuan, group apa mengirimkan armada sekian mobil untuk ke daerah itu yang kena gempa, dll…dan kesemuanya HARUS ditayangkan di media, minimal masuk advertorial setengah halaman di koran nasional…riya? Maybe, gak ikhlas? Bukan hak saya untuk menilainya, itu hak Tuhan untuk menilainya, jadi saya tidak akan berpanjang lebar tentang ini, terserah lah, semua itu tergantung niatnya. Korporasi korporasi itu menyumbang dengan ditayangkan di media dengan niatan untuk memancing korporasi lain menyumbang juga demi kemanusiaan, atau dengan niatan agar korporasi yang menyumbang tadi mendapatkan nama baik di masyarakat dan mendapatkan legitimasi tambahan untuk menjalankan ekonomi kapitalisnya, entahlah…biar Tuhan yang menilai

Yang mengganjal di otak saya, ketika sekian hari yang lalu ada email yang masuk ke mailing list alumni sekolah saya, yang otomatis nyangkut ke inbox saya, tentang itung itungan ganjaran!...itung itungan ganjaran gimana? Kita yang muslim tentu pernah denger ceramah ustad atau kiai yang bilang, harta yang kita sumbangkan akan dibalas oleh Allah sebesar sekian kali lipat, dan dengan kriteria tertentu dapat pengalian lagi sekian kali lipat. Nah, email ini menghitung berapa rupiah nilai ganjaran yang akan kita dapat dari Tuhan dengan menyumbang sekian rupiah…bila kita menyumbang sekian rupiah maka sesuai janji Allah nilai sumbangan kita akan dikalikan blablabla kali, lalu menjadi sekian juta rupiah, itu berarti berapa bulan gaji, dan seterusnya…

Saya pikir ini aneh, wong nyumbang kok dengan itung itungan harta, itu sama saja dengan mengajak Tuhan berdagang, memangnya Tuhan itu kapitalis? Misalnya bukan dengan itung itungan harta pun, itu menandakan kita memberikan bantuan masih dengan pamrih, pamrih agar mendapatkan ganjaran dari Tuhan, jadi menurut saya bukan pure ikhlas, demi menolong sesama, tapi agar mendapatkan balasan yang lebih baik dari tuhan, minimal agar “mendapatkan ridho Allah”, agar mendekatkan DIRInya dengan Tuhan, mencari surganya sendiri…apa bukan egois itu namanya?

Kita ini kan manusia tho, makhluk sosial, sudah selayaknya kalau kita menyumbang dengan niatan yang benar benar ikhlas untuk membantu manusia lain, minimal membantu manusia lain agar bisa semakin mendekatkan diri mereka dengan Tuhan, jadi ndak cuma diri kita sendiri yang semangkin dekat dengan tuhan, tapi diri orang lain yang dibantu itu juga. Perkara nanti sumbangan kita itu dapet ganjaran atau tidak, dilipatgandakan atau tidak, itu hak prerogatif Tuhan, bukan urusan kita. Kalau kita sudah berpikir seperti itu, maka insya Allah sewaktu kita menyumbang, kita akan bisa dengan benar benar ikhlas menyumbang, demi kemanusiaan, demi dunia yang lebih baik, demi kesetiakawanan sosial yang lebih baik. Bukan cuma demi pahala pribadi atau kepuasan pribadi belaka. Dan kalau kita sudah mendapatkan level ikhlas dalam beramal, maka walaupun nanti akhirnya amal kita tidak diterima oleh Tuhan, minimal kita sudah membantu sesama manusia, menyenangkan orang lain.

“Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Seutama utamanya amal ialah memasukkan rasa bahagia pada orang yang beriman, melepaskan lapar, membebaskan kesulitan, atau membayarkan hutang” (hadits riwayat Ath Thabrani)

kalau kita sudah mencapai level ikhlas ini, kita akan bisa berbuat untuk kemanusiaan, terbebas dari batas batas agama, ideologi, negara, etnis, daerah, dan batas batas lain, benar benar demi membantu sesama manusia, demi membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Jadi kawanku, sudahkah kamu mencapai level ikhlas?

Thursday, February 1, 2007

Resep aneka bubur untuk 6-9 bulan

Bubur Kakap Brokoli
(6-9 bulan)

Bahan:
100 ml air
20 g daging ikan kakap, cuci, potong kecil-kecil
25 g brokoli, petik sesuai kuntum, cuci, potong kecil-kecil
10 g tomat matang, potong kecil-kecil
100 ml air masak hangat (+75° C)
2 sdm peres milna bubur khusus

Cara membuat:
• Rebus air sampai mendidih. Masukkan daging ikan kakap, masak hingga matang.
• Masukkan brokoli dan tomat, masak dalam keadaan tertutup selama 10 menit atau sampai brokoli lunak, angkat.
• Haluskan dengan menggunakan blender atau saringan. Tuang dalam mangkuk bersih, tutup dan sisihkan.
• Tuang air masak hangat ke dalam mangkuk saji bersih. Masukkan milna bubur khusus, aduk hingga rata.
• Tuang bubur sayuran, aduk hingga rata.
• Suapkan pada bayi.

Untuk 1 porsi

Bubur Susu Pure Apel
(6-9 bulan)

Bahan:
20 g tepung maizena
200 ml air
3 sdm peres susu formula bubuk
Pure Apel:
150 g apel manis, cuci, belah empat, buang bagian tengahnya
50 ml air jeruk manis

Cara membuat:
• Pure apel: panaskan dandang dan kukus apel selama 10-12 menit. Angkat. Kupas kulit apel, lalu masukkan ke dalam blender. Tuang air jeruk, lalu haluskan hingga menjadi pure. Sisihkan.
• Cairkan tepung maizena dengan sedikit air.
• Jerang sisa air dan tunggu sampai mendidih. Tuangi cairan tepung maizena, aduk-aduk sampai mengental. Angkat.
• Campurkan susu formula. Aduk rata.
• Tuang adonan bubur ke dalam mangkuk saji bersih dan hidangkan dengan pure apel.

Untuk 2 porsi


Bubur Kentang
Bahan:
100 gr kentang, kupas potong kecil
50 gr ikan kakap, potong dadu
50 gr brokoli, cacah halus
Kaldu Ayam Sayuran:
500 gr tulang ayam
50 gr daun seledri
1 buah wortel, potong dadu
1/4 butir bawang bombai, potong dadu
selembar daun salam
800 cc air
Cara Membuat:
1. Kaldu ayam sayuran: campur semua bahan dan rebus hingga air tinggal separuh. Angkat dan saring.
2. Rebus kentang, ikan, dan brokoli dengan kaldu ayam hingga lunak, angkat. Masukkan dalam blender dan haluskan.
3.Tuang dalam wadah saji dan berikan selagi hangat-hangat kuku.
Untuk 2 porsi

Jeli Buah Sayuran
Bahan:
50 gr apel, kupas, potong dadu
50 gr pear, kupas, potong dadu
1 buah tomat merah, seduh dalam air, haluskan, saring, ambil airnya
50 gr wortel, kupas, potong dadu
1 buah jeruk manis, peras, ambil airnya
4 sdm susu formula I, seduh dalam 500 cc air hangat
3 sdt tepung jeli tawar, siap pakai
Cara Membuat:
1. Campur semua bahan kecuali jeli dan masukkan ke dalam blender. Haluskan
2. Campur dengan tepung jeli, jerang hingga mendidih. Tuang ke dalam cetakan. Dinginkan. Sajikan jeli buah sayuran saat dingin.
Untuk 4 porsi

Bubur Pisang Apel
Bahan:
250 gr pisang ambon, rebus sebentar
100 gr apel, kupas, potong kecil, rebus sebentar
4 sdm susu formula I, seduh dalam 250 cc air rebusan pisang dan apel
Cara Membuat:
Campur semua bahan dan masukkan ke dalam blender. Haluskan. Tuang ke dalam wadah saji dan biarkan agak dingin.
Untuk 2 porsi

Bubur Ikan Bayam Merah
Bahan:
70 gr beras merah
500 cc kaldu ayam sayuran (lihat resep kaldu ayam sayuran)
50 gr daging ayam, potong dadu
50 gr wortel, kupas, potong dadu
50 gr bayam merah, cincang kasar
1/8 sdt garam
2 sdt margarin
Cara Membuat:
1. Masukkan beras dan ayam ke dalam kaldu ayam sayuran hingga lunak. Masukkan wortel dan teruskan merebus.
2. Tambahkan bayam, garam, dan margarin, rebus selama 3 menit. Angkat.
3. Masukkan ke dalam blender dan haluskan. Tuangkan ke dalam wadah dan sajikan saat sudah dingin
Untuk 2 porsi

Resep aneka puree

Aneka Pure

*PURE BUAH CAMPUR (untuk bayi 6-8 bulan)

Bahan:
* 50 gr apel manalagi, kupas, iris dadu kecil
* 50 gr pir hijau, kupas, iris dadu kecil
* 50 gr pepaya matang, iris dadu kecil
* 50 cc air jeruk manis
* 2 sdm susu formula lanjutan
* 200 cc air hangat


Cara membuat:
- Didihkan air, masukkan apel, pir, dan pepaya. Rebus selama 5 menit. Angkat.
- Masukkan air jeruk dan susu formula lanjutan. Aduk rata.
Setelah agak dingin, masukkan ke dalam blender. Haluskan hingga lembut.
- Sajikan untuk bayi Anda segera atau simpan dalam lemari es. Jika akan diberikan kepada bayi, rendam pure buah berikut wadahnya dalam air panas.

Untuk 2 porsi


Nilai gizi per porsi:
Energi: 93 Kal
Protein: 2,3 gr
Lemak: 1,2 gr
Karbohidrat: 19,9 gr

*PURE SARI LAUT (untuk bayi 7-9 bulan)

Bahan:
* 50 gr fillet kakap merah
* 1 sdm air jeruk nipis
* 1/2 sdt jahe parut
* 50 gr tahu sutera, iris dadu kecil
* 50 gr wortel, kupas, iris dadu kecil
* 50 gr kembang kol, cincang kasar
* 1 buah kentang, kupas, bersihkan, iris dadu kecil
* 250 cc air

Cara membuat:
- Lumuri ikan kakap merah dengan jeruk nipis dan jahe, diamkan selama 3 menit. Cuci dengan air mengalir.
- Rebus air hingga mendidih, masukkan kentang. Setelah lunak, masukkan ikan, wortel, dan kembang kol, terakhir masukkan tahu. Rebus selama 2 menit. Angkat dan dinginkan.
- Masukkan ke dalam blender dan haluskan hingga lembut.
- Sajikan untuk bayi Anda segera atau simpan dalam lemari es. Jika akan diberikan, hangatkan dengan cara merendamnya beserta wadah dalam air panas, jangan dimasak lagi.
Untuk 2 porsi

Nilai gizi per porsi:
Energi: 83 Kal
Protein: 8,4 gr
Lemak: 1,4 gr
Karbohidrat: 10,2 gr

*PURE LABU KUNING*

Bahan:
* 100 gr labu kuning, kupas, iris dadu
* 50 gr daging ayam, buang lemak, cuci, iris dadu kecil
* 50 gr
tempe, iris dadu kecil
* 50 gr bayam, iris halus
* 1 sdm keju parut
* 1 sdm susu formula lanjutan
* 300 cc air matang

Cara membuat:
- Rebus air hingga mendidih. Masukkan labu kuning, ayam, dan
tempe.
- Setelah matang, masukkan bayam, rebus selama 3 menit. Angkat dan masukkan keju serta susu formula lanjutan, aduk rata.
- Setelah dingin masukkan ke dalam blender, haluskan hingga lembut.
- Sajikan untuk bayi Anda segera atau simpan dalam lemari es. Hangatkan dengan cara merendam pure beserta wadahnya dalam air panas.
Untuk 3 porsi


Nilai gizi per porsi:
Energi: 83 Kal
Protein: 8,6 gr
Lemak: 2,2 gr
Karbohidrat: 8 gr

*Sumber: Tabloid Nakita

Money back guarantee

Dalam kehidupan sehari hari di negeri kapitalis amatir ini, hidup kita semakin dilingkupi olhe kebutuhan akan uang, uang, dan uang.semuanya seolah olah tidak akan berjalan dengan semestinya tanpa uang, semua hal seperti bisa terbeli dengan uang. Uang juga bisa mempengaruhi tingkat stress seseorang, atau lebih tepatnya, stress yang diakibatkan oleh keinginan mempunyai uang yang terlalu menggebu dan tidak terkontrol.

Benarkah uang sepenting itu? Benarkah kita harus membiarkan hidup kita disetir sedemikian rupa oleh uang? Jawabannya –setidaknya menurut pendapatku- tidak sama sekali!

Entitas bernama “uang” itu manusialah yang bikin. Maka akan sangat absurd kalau sampai manusia disetir oleh uang. Sebenarnya, manusia jugalah yang membiarkan pikirannya dan hidupnya disetir oleh uang. Gara gara jargon itu tadi “money isn’t everything, but money can buy anything” dikolaborasikan dengan sifat dasar manusia yang “never get enough”. Then do the bloody math, manusia tidak akan pernah merasa cukup akan apa yang telah dimilikinya, maka manusia akan berusaha memiliki semuanya, dan agar manusia mampu memiliki semuanya, maka manusia butuh uang yang cukup untuk membeli semuanya.

Perumusan itulah yang membuat manusia begitu membabi buta dalam mengumpulkan uang. Sifat dasar manusia yaitu rakus, kawin dengan alat tukar yang bernama “uang” maka lahirlah anak yang lucu bernama kapitalisme, anak ini kelak melahirkan pula budaya konsumerisme.

Pada paham kapitalisme, semua dinilai dengan uang, semua dinilai dengan untung rugi, maksudnya dapat uang atau kehilangan uang. Para kapitalis akan MENJUAL dan MEMBELI dengan tujuan untuk mendapatkan kesejahteraan (yah, uang itu tadilah) bagi diri sendiri atau kelompoknya. Lembaga keuangan memberi pinjaman bernama indah buat indonesia yang akhirnya tidak berguna karena habis dikorupsi, sementara pinjaman tadi harus dibayar lagi dengan bunga yang menguntungkan lembaga keuangan tadi. Amerika menyerang kuwait, afghan, dan terakhir iraq hanya untuk menguasai jalur minyak yang akan menjadikan amerika makin kaya karena pasar minyak dunia bisa dimonopoli oleh amerika. Amerika memberi bantuan keuangan macam macam kepada indonesia agar so-called pemerintah indonesia membuat dan mengesahkan peraturan yang menguntungkan amerika disini.





Pada aspek kehidupan sehari hari, kebutuhan akan uang bahkan sudah begitu mendarah daging, sejak kita berangkat ke tempat lain pada pagi hari untuk beraktivitas, kita akan menemui sejumlah besar orang yang memacu kendaraannya seolah olah semuanya sedang punya istri yang akan melahirkan, atau orang tua yang sakaratul maut sedikiittt lagi akan mati…kenapa? Simple, semuanya terburu buru bekerja mencari uang, kebutuhan akan uanglah yang membuat mereka bersikap seperti itu. Di tempat kerja, kita akan menemui orang yang menjilat atasan dan menginjak bawahan, kenapa? Agar lebih lancar bayaran yang mengalir untuknya, uang lagi kan? Terlepas dari untuk apa uang itu nanti akan digunakan, setiap orang akan punya keinginan untuk punya mobil yang dingin dan nyaman, rumah yang besar, makanan yang enak, untuk itu semua, dibutuhkan uang. Kebutuhan inilah yang kadang sampai merendahkan ambang stress seseorang.

Maka berbahagialah orang orang yang mampu mengontrol keinginannya sendiri, dari situ orang itu akan bisa mengontrol kebutuhannya akan uang. Dengan itu, tanpa sadar ambang stressnya akan naik, pikirannya tidak akan semudah itu stressed out. Orang macam ini tidak cukup bodoh untuk menjadikan hidupnya hanya berdasarkan uang uang dan uang. Orang seperti ini biasanya tahu batas kemampuannya sendiri, tidak muluk muluk dan ngoyo, perasaan yang akhirnya akan mendorong seseorang untuk membabi buta mencari uang. Seperti jargon jawa kuno yang diterapkan oleh kakek buyut dan ayahku yang terhormat, urip kuwi sakmadyo wae, sing sareh. Kalau kita bisa paham artinya, maka akan tenanglah hidup kita. Pikiran kita tidak akan dipenuhi keinginan muluk muluk yang akhirnya bermanifestasi menjadi dorongan untuk mencari uang sebanyak banyaknya. Rasa sosial kita juga akan lebih terasah karena untuk membantu orang lain, kita tidak akan memikirkan untung rugi lagi.

Pikirkan ini, kawan, kita lahir telanjang bulat tanpa bawa apa apa, matipun kita tidak akan bisa menikmati kekayaan yang kita kumpulkan selama hidup, jadi, buat apa kita ngoyo mengumpulkan harta sebanyak banyaknya kalau pada akhirnya tidak berguna?

Kemana mana harus jalan kaki pun akan terasa indah kalau kita tidak punya nafsu punya uang untuk membeli sepeda motor, setiap hari makan seadanya pun akan terasa indah kalau kita tidak punya nafsu punya uang untuk makan enak di tempat mewah nan hedon. Kalau kita bisa berpikir seperti ini, maka kita akan lebih mampu mensyukuri dan menghargai apa yang telah kita dapat dan punya.

Maka bebaskanlah pikiranmu, biarkan pikiranmu berpikir jernih tanpa dikotori oleh nafsu akan uang, maka semuanya akan terlihat lebih indah, percayalah.

Sudah saaatnya kita menghapus jargon “money can buy anything” dan mempraktekkan jargon “money isn’t everything”

“money can buy medicine, but money can’t buy health

money can buy house, but money can’t buy home

money can buy manpower, but money can’t buy family

money can buy things we like, but money can’t buy happiness”