
"mama, are you sure this is the smallest size shirt?"

"choooocoolaaatoooo....fear the choc monster!"


FPI clash dengan
Oalah FPI, apa sih mau kalian? Cari popularitas karena kabar tentang kalian mulai meredup? Jika di masa lalu kalian mengerahkan massa untuk menghancurkan tempat tempat maksiat (yang jauh dari basis kalian di petamburan, sementara komplek pelacuran di sekitar bongkaran kalian diamkan saja), maka kalian sekarang ‘meluangkan waktu’ untuk sweeping anggota partai komunis diantara para buruh yang sedang merayakan hari buruh. Sebegitu lancang kah para buruh itu merayakan hari besar mereka sehingga kalian harus buang waktu mengadakan penghadangan dan sweeping? Sebegitu kotor kah anggota partai komunis sehingga kalian rela ber panas panasan berhadapan dengan massa buruh yang sejenak keluar dari rutinitas mereka melayani para pemilik modal, juragan juragan mereka, hanya untuk membersihkan massa buruh dari anggota partai komunis itu tadi?
Yang tetap menjadi pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku sampai sekarang, wahai anggota dan simpatisan FPI (Front Pembela Islam); dimana kalian waktu kasus kasus korupsi merajalela tapi polisi sebagai law enforcement resmi tidak kuasa mengungkap? Dimana kalian waktu ‘pasukan penegak perda’ satpol PP mengobrak abrik dagangan para bakul kakilima atas nama pembangunan? Dimana kalian waktu tayangan sinetron perusak akidah (yang pastinya penyebarannya lebih hebat daripada majalah playboy) semangkin menjamur di tivi2 lokal? Dimana kalian waktu TKW TKW beragama islam disiksa dan dibunuh di negara islam tempat mereka bekerja? Dimana kalian ketika ustadz abubakar baasyir ditangkap oleh den 88 binaan amerika karena dituduh teroris tanpa bukti?
Terus terang, dulu aku sempat berpikir kalian benar benar front pembela islam, dan juga pembela muslim, termasuk muslim miskin yang hidupnya ter marginalisasi derap laju globalisasi (yah, itu bisa diterjemahkan sebagai, tempat dagang nya digusur untuk dibangun mall milik pemodal superbesar yang mampu menyogok pemerintahan setempat). Sekarang, aku semakin kehilangan hormat pada kalian, kalian tak ubahnya serigala liar kelaparan yang disuruh jaga rumah, sangat fierce dan mematikan untuk segala hal kecuali tugas utama mereka yaitu menjaga rumah.
Jika dulu waktu kalian baru berdiri aku optimis kalian akan menjadi penegak hukum menggantikan tugas law enforcement resmi yang impoten dan menghamba pada amerika, maka sekarang aku sudah sampai titik saturasi waktu melihat kalian benar benar berhadapan dengan para buruh, sewaktu kalian mengacau perayaan hari besar buruh di yogya. Kini aku dengan senang hati akan berdiri di barisan para buruh menghadapi kalian, wahai bar bar…
untuk semua idiot yang berfikir semua ide dapat berakhir di perapian
tak ada dunia yang begitu mudah untuk kalian hitamputihkan
mendukung keagungan layak Heidegger mendukung Nazi
propaganda basi, wahyu surgawi dengan bau tengik terasi
jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap
maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan botol kecap
Yo, FASIS YANG BAIK ADALAH FASIS YANG MATI!
FASIS YANG BAIK ADALAH FASIS YANG MATI!
FASIS YANG BAIK ADALAH FASIS YANG MATI!
tunggu di ujung jalan yang sama saat kalian mengancam kami-homicide : puritan

Bencana dimana mana, seluruh media meliput bencana, berbanding lurus dengan berita berita tentang bencana, timbul juga berita berita tentang korporasi ini mendirikan posko anu di mana, perusahaan itu menyumbang sekian truk bantuan, group apa mengirimkan armada sekian mobil untuk ke daerah itu yang kena gempa, dll…dan kesemuanya HARUS ditayangkan di media, minimal masuk advertorial setengah halaman di koran nasional…riya? Maybe, gak ikhlas? Bukan hak saya untuk menilainya, itu hak Tuhan untuk menilainya, jadi saya tidak akan berpanjang lebar tentang ini, terserah lah, semua itu tergantung niatnya. Korporasi korporasi itu menyumbang dengan ditayangkan di media dengan niatan untuk memancing korporasi lain menyumbang juga demi kemanusiaan, atau dengan niatan agar korporasi yang menyumbang tadi mendapatkan nama baik di masyarakat dan mendapatkan legitimasi tambahan untuk menjalankan ekonomi kapitalisnya, entahlah…biar Tuhan yang menilai
Yang mengganjal di otak saya, ketika sekian hari yang lalu ada email yang masuk ke mailing list alumni sekolah saya, yang otomatis nyangkut ke inbox saya, tentang itung itungan ganjaran!...itung itungan ganjaran gimana? Kita yang muslim tentu pernah denger ceramah ustad atau kiai yang bilang, harta yang kita sumbangkan akan dibalas oleh Allah sebesar sekian kali lipat, dan dengan kriteria tertentu dapat pengalian lagi sekian kali lipat. Nah, email ini menghitung berapa rupiah nilai ganjaran yang akan kita dapat dari Tuhan dengan menyumbang sekian rupiah…bila kita menyumbang sekian rupiah maka sesuai janji Allah nilai sumbangan kita akan dikalikan blablabla kali, lalu menjadi sekian juta rupiah, itu berarti berapa bulan gaji, dan seterusnya…
Saya pikir ini aneh, wong nyumbang kok dengan itung itungan harta, itu sama saja dengan mengajak Tuhan berdagang, memangnya Tuhan itu kapitalis? Misalnya bukan dengan itung itungan harta pun, itu menandakan kita memberikan bantuan masih dengan pamrih, pamrih agar mendapatkan ganjaran dari Tuhan, jadi menurut saya bukan pure ikhlas, demi menolong sesama, tapi agar mendapatkan balasan yang lebih baik dari tuhan, minimal agar “mendapatkan ridho Allah”, agar mendekatkan DIRInya dengan Tuhan, mencari surganya sendiri…apa bukan egois itu namanya?
Kita ini
“Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Seutama utamanya amal ialah memasukkan rasa bahagia pada orang yang beriman, melepaskan lapar, membebaskan kesulitan, atau membayarkan hutang” (hadits riwayat Ath Thabrani)
kalau kita sudah mencapai level ikhlas ini, kita akan bisa berbuat untuk kemanusiaan, terbebas dari batas batas agama, ideologi, negara, etnis, daerah, dan batas batas lain, benar benar demi membantu sesama manusia, demi membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Jadi kawanku, sudahkah kamu mencapai level ikhlas?
*PURE BUAH CAMPUR (untuk bayi 6-8 bulan)
Bahan:
* 50 gr apel manalagi, kupas, iris dadu kecil
* 50 gr pir hijau, kupas, iris dadu kecil
* 50 gr pepaya matang, iris dadu kecil
* 50 cc air jeruk manis
* 2 sdm susu formula lanjutan
* 200 cc air hangat
Cara membuat:
- Didihkan air, masukkan apel, pir, dan pepaya. Rebus selama 5 menit. Angkat.
- Masukkan air jeruk dan susu formula lanjutan. Aduk rata.
Setelah agak dingin, masukkan ke dalam blender. Haluskan hingga lembut.
- Sajikan untuk bayi Anda segera atau simpan dalam lemari es. Jika akan diberikan kepada bayi, rendam pure buah berikut wadahnya dalam air panas.
Untuk 2 porsi
Nilai gizi per porsi:
Energi: 93 Kal
Protein: 2,3 gr
Lemak: 1,2 gr
Karbohidrat: 19,9 gr
*PURE SARI LAUT (untuk bayi 7-9 bulan)
Bahan:
* 50 gr fillet kakap merah
* 1 sdm air jeruk nipis
* 1/2 sdt jahe parut
* 50 gr tahu sutera, iris dadu kecil
* 50 gr wortel, kupas, iris dadu kecil
* 50 gr kembang kol, cincang kasar
* 1 buah kentang, kupas, bersihkan, iris dadu kecil
* 250 cc air
Cara membuat:
- Lumuri ikan kakap merah dengan jeruk nipis dan jahe, diamkan selama 3 menit. Cuci dengan air mengalir.
- Rebus air hingga mendidih, masukkan kentang. Setelah lunak, masukkan ikan, wortel, dan kembang kol, terakhir masukkan tahu. Rebus selama 2 menit. Angkat dan dinginkan.
- Masukkan ke dalam blender dan haluskan hingga lembut.
- Sajikan untuk bayi Anda segera atau simpan dalam lemari es. Jika akan diberikan, hangatkan dengan cara merendamnya beserta wadah dalam air panas, jangan dimasak lagi.
Untuk 2 porsi
Nilai gizi per porsi:
Energi: 83 Kal
Protein: 8,4 gr
Lemak: 1,4 gr
Karbohidrat: 10,2 gr
*PURE LABU KUNING*
Bahan:
* 100 gr labu kuning, kupas, iris dadu
* 50 gr daging ayam, buang lemak, cuci, iris dadu kecil
* 50 gr
* 50 gr bayam, iris halus
* 1 sdm keju parut
* 1 sdm susu formula lanjutan
* 300 cc air matang
Cara membuat:
- Rebus air hingga mendidih. Masukkan labu kuning, ayam, dan
- Setelah matang, masukkan bayam, rebus selama 3 menit. Angkat dan masukkan keju serta susu formula lanjutan, aduk rata.
- Setelah dingin masukkan ke dalam blender, haluskan hingga lembut.
- Sajikan untuk bayi Anda segera atau simpan dalam lemari es. Hangatkan dengan cara merendam pure beserta wadahnya dalam air panas.
Untuk 3 porsi
Nilai gizi per porsi:
Energi: 83 Kal
Protein: 8,6 gr
Lemak: 2,2 gr
Karbohidrat: 8 gr
*Sumber: Tabloid Nakita
Dalam kehidupan sehari hari di negeri kapitalis amatir ini, hidup kita semakin dilingkupi olhe kebutuhan akan uang, uang, dan uang.semuanya seolah olah tidak akan berjalan dengan semestinya tanpa uang, semua hal seperti bisa terbeli dengan uang. Uang juga bisa mempengaruhi tingkat stress seseorang, atau lebih tepatnya, stress yang diakibatkan oleh keinginan mempunyai uang yang terlalu menggebu dan tidak terkontrol.
Benarkah uang sepenting itu? Benarkah kita harus membiarkan hidup kita disetir sedemikian rupa oleh uang? Jawabannya –setidaknya menurut pendapatku- tidak sama sekali!
Entitas bernama “uang” itu manusialah yang bikin. Maka akan sangat absurd kalau sampai manusia disetir oleh uang. Sebenarnya, manusia jugalah yang membiarkan pikirannya dan hidupnya disetir oleh uang. Gara gara jargon itu tadi “money isn’t everything, but money can buy anything” dikolaborasikan dengan sifat dasar manusia yang “never get enough”. Then do the bloody math, manusia tidak akan pernah merasa cukup akan apa yang telah dimilikinya, maka manusia akan berusaha memiliki semuanya, dan agar manusia mampu memiliki semuanya, maka manusia butuh uang yang cukup untuk membeli semuanya.
Pada paham kapitalisme, semua dinilai dengan uang, semua dinilai dengan untung rugi, maksudnya dapat uang atau kehilangan uang.

Maka berbahagialah orang orang yang mampu mengontrol keinginannya sendiri, dari situ orang itu akan bisa mengontrol kebutuhannya akan uang. Dengan itu, tanpa sadar ambang stressnya akan naik, pikirannya tidak akan semudah itu stressed out. Orang macam ini tidak cukup bodoh untuk menjadikan hidupnya hanya berdasarkan uang uang dan uang. Orang seperti ini biasanya tahu batas kemampuannya sendiri, tidak muluk muluk dan ngoyo, perasaan yang akhirnya akan mendorong seseorang untuk membabi buta mencari uang. Seperti jargon jawa kuno yang diterapkan oleh kakek buyut dan ayahku yang terhormat, urip kuwi sakmadyo wae, sing sareh. Kalau kita bisa paham artinya, maka akan tenanglah hidup kita. Pikiran kita tidak akan dipenuhi keinginan muluk muluk yang akhirnya bermanifestasi menjadi dorongan untuk mencari uang sebanyak banyaknya. Rasa sosial kita juga akan lebih terasah karena untuk membantu orang lain, kita tidak akan memikirkan untung rugi lagi.
Pikirkan ini, kawan, kita lahir telanjang bulat tanpa bawa apa apa, matipun kita tidak akan bisa menikmati kekayaan yang kita kumpulkan selama hidup, jadi, buat apa kita ngoyo mengumpulkan harta sebanyak banyaknya kalau pada akhirnya tidak berguna?
Kemana mana harus jalan kaki pun akan terasa indah kalau kita tidak punya nafsu punya uang untuk membeli sepeda motor, setiap hari makan seadanya pun akan terasa indah kalau kita tidak punya nafsu punya uang untuk makan enak di tempat mewah nan hedon. Kalau kita bisa berpikir seperti ini, maka kita akan lebih mampu mensyukuri dan menghargai apa yang telah kita dapat dan punya.
Maka bebaskanlah pikiranmu, biarkan pikiranmu berpikir jernih tanpa dikotori oleh nafsu akan uang, maka semuanya akan terlihat lebih indah, percayalah.
Sudah saaatnya kita menghapus jargon “money can buy anything” dan mempraktekkan jargon “money isn’t everything”
“money can buy medicine, but money can’t buy health
money can buy house, but money can’t buy home
money can buy manpower, but money can’t buy family
money can buy things we like, but money can’t buy happiness”